PerspektifLampung

Sudut Pandang Informasi

Efektifkah E-Learning Selama Pandemi?

Efektifkah E-Learning Selama Pandemi?
Efektifkah E-Learning Selama Pandemi?
Oleh: Nabila Aulia *
[Mahasiswi Universitas Sampoerna]
Kurang lebih Lima bulan Indonesia mengalami keterpurukan yang disebabkan oleh pandemi yang berasal dari Negeri Tirai Bambu. Virus yang dinamakan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ini mengubah seluruh aspek kehidupan. PSBB yang di terapkan diberbagai kota di Indonesia membuat perubahan yang sangat signifikan. Tak hanya ekonomi yang perlahan mulai surut, sistem pendidikan di Indonesia juga seperti karang yang diterjang ombak.
Kebijakan Menteri, Nadiem Makarim, untuk menunda pembelajaran tatap muka hingga akhir tahun dalam konteks untuk mencegah penularan Covid-19 itu, justru di sisi yang lain semakin membebankan para pelajar Indonesia. Bagaimana tidak? Banyak faktor yang menjadikan sistem pembelajaran E-Learning menjadi tidak efektif. Faktor-faktor tersebut antara lain yaitu sarana yang kurang memadai, perbedaan cara belajar setiap siswa, dan kondisi tempat belajar.
Sarana yang kurang memadai 
Menurut data yang dilansir oleh statista pada tahun 2019, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2020 hanya berjumlah 44,6%. Tidak semua pelajar memiliki peralatan pendukung E-E-Learning seperti gadget, melihat banyaknya keluarga yang kurang mampu di Indonesia mengakibatkan mereka tidak memiliki gadget. Itu menyebabkan mereka terhambat dalam belajar dan mengalami kemunduran pendidikan.
Pembelajaran E-Learning juga membutuhkan paket data yang banyak. Paket data yang dihabiskanpun tidak sedikit, apalagi jika kita melihat perekonomian di Indonesia sedang yang sedang melemah. Ini menjadi sulit bagi orang-orang yang kurang mampu. Sudah menjadi kewajiban negara untuk memenuhi hak masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah hak masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Lalu apa yang harus diberikan negara dalam hal seperti ini?
Tak hanya itu, pemerintah juga harus memikirkan pelajar yang bertempat tinggal di kawasan zona merah namun tidak bisa mengakses internet karena tidak adanya sinyal di daerah tersebut. Hal ini harus benar-benar dipertimbangkan. Dua bulan yang lalu, Indonesia dikagetkan dengan berita pelajar dari salah satu universitas negeri terjatuh dari menara karena ingin mencari sinyal. Hal inilah yang perlu diperbaiki lagi dari sistem pendidikan saat ini. Hal-hal apa saja yang akan terjadi harus dipertimbangkan lagi oleh pemerintah. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi.
Perbedaan Cara Belajar 
Seperti yang kita ketahui, bahwa setiap manusia memiliki karakter dan pemikiran yang berbeda beda dan ada banyak perbedaan cara belajar pelajar. Contohnya ada pelajar yang bisa belajar sendiri dan ada juga pelajar yang tidak bisa belajar sendiri atau harus dengan berkelompok. Sistem pembelajaran daring ini, menguntungkan bagi siswa yang bisa dan suka belajar sendiri. Namun, hal ini menyulitkan dan membebani bagi siswa yang tidak bisa belajar sendiri dan butuh kerja kelompok.
Banyak guru yang memberikan tugas yang banyak, dengan alasan supaya murid-muridnya tetap berada di rumah. Terlebih lagi, jika guru tidak menjelaskan secara detail atau hanya menjelaskan sedikit mengenai materi yang akan dijadikan tugas untuk pelajar. Hal ini menyebabkan adanya kesalah pahaman antara siswa dan guru. Ini juga menyebabkan kebingungan bagi pelajar untuk memahami materi yang disampaikan dan sulit untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Ini terbukti dalam survey yang diadakan di seluruh Indonesia. Survey ini membuktikan bahwa dari 3.839 tanggapan, sebanyak 38% pelajar merasa kurang mendapat bimbingan dari guru. Tugas yang banyak dan kurangnya penjelasan bukanlah solusi yang tepat untuk memaksakan anak untuk tetap di rumah. Justru semakin banyak tugas yang diberikan, semakin tidak efektifnya pembelajaran E-learning.
Kondisi Tempat Belajar
Keadaan rumah tidak kondusif juga adalah salah satu hambatan yang harus dilewati. Keadaan rumah yang tidak kondusif mengakibatkan gangguan konsentrasi pelajar ketika belajar. Hal ini juga salah satu hambatan sekolah daring. Salah satu jurnal yang di terbitkan oleh pelajar STAIN Salatiga pada tahun 2014, menyebutkan bahwa kekondusifan ruang belajar sangat berpengaruh terhadap konsentrasi siswa. Jika siswa berada di dalam ruangan yang tidak kondusif, konsentrasi siswa lebih buruk dibandingkan siswa yang berada di ruangan yang kondusif. Maka dari itu, ruangan yang tidak kondusif menjadi hambatan dalam belajar online dan menyebabkan pembelajaran daring menjadi tidak efektif.
Dampak Terhadap Pelajar
Belum lama ini, rekan-rekan dari Universitas Telkom mengadakan survey lapangan mengenai kesehatan mental pelajar dikala sekolah daring. Hasilnya sudah tidak mengejutkan. Terdapat 60.5% pelajar siap beradaptasi dengan perubahan pembelajaran menjadi online. Namun, sekitar 59.5% pelajar keberatan atas tugas yang diberikan guru dan mengakibatkan stress. Dan sebanyak 92% pelajar lebih memilih dan lebih suka persekolahan tatap muka di kelas di banding persekolahan online. Melihat dari survey yang ada, bahwa sekolah online seperti ini menjadi tidak efektif karena tidak adanya kemauan dari pelajar. Mereka menjadi terpaksa menjalani sekolah online. Hal ini menyebabkan pelajar menjadi tertekan dan terbebani.
Harapan
  Pembelajaran dengan sistem daring atau online belum siap dihadapi oleh pelajar. Bahkan dengan diterapkannya sistem ini, pelajar merasa terbebani dan tidak enjoy dengan pembelajaran seperti ini.
Lalu, jika terus seperti ini, sistem pendidikan daring menjadi tidak efektif dengan melihat hambatan-hambatan yang ada. Saran saya, penting bagi guru untuk selalu mengecek bahwa siswa mengerti atau tidak dengan materi yang diberikan. Tak hanya itu, mungkin guru-guru bisa memberi tugas yang tidak terlalu membebankan karena seperti yang kita ketahui, pelajar Indonesia masih sangat awam mengenai pembelajaran jarak jauh. Kewajiban negara untuk memenuhi hak para pelajar juga harus main andil dalam sistem pembelajaran seperti ini. Contohnya untuk pemberian paket data kepada siswa yang kurang mampu atau penggratisan internet pada saat jam sekolah. Tak hanya itu, kurikulum juga tampaknya harus diringankan karena siswa merasa keberatan jika kurikulum yang saat ini dipakai untuk pembelajaran daring. (*)
banner 468x60

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami,agar tidk ketinggalan berita terbaru silahkan subscribe kami

No Responses

Tinggalkan Balasan