PERSPEKTIFLAMPUNG – Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lampung Timur (Lamtim), Almaturidi diduga menyarankan bawahannya untuk meminta uang setoran proyek kepada sejumlah rekanan yang ingin mendapatkan proyek di Dinas tersebut.
Seperti diungkapkan Anton yang merupakan salah satu rekanan dari Desa Negara Nabung, kecamatan Sukadana, kepada sejumlah awak media, Rabu (25/4).
Menurutnya, bahwa setiap rekanan yang mendapatkan proyek di Dinas tersebut diwajibakan setor uang sebesar 20 persen dari nilai pekerjaan yang ada di dinas tersebut. Besaran setoran proyek tersebut disampaikan melalui salah satu stafnya yang ditunjuk langsung oleh Almaturidi.
” Kalau para rekanan mau dapat proyek dari dinas tersebut, maka diwajibkan harus setor 20 persen. Pokoknya dari nilai pekerjaan Rp40 juta sampai Rp400 juta. Rekanan harus setor dan itu sesuai perintah yang disampaikan kadis ke pegawai yang mengurusi pekerjaan yang ada di dinas tersebut. Kalau setorannya nggak diberikan, maka perusahaan dari rekanan tidak akan diproses, “jelasnya dengan nada sedikit kesal.
Ia melanjutkan, selain meminta setoran proyek, Almaturidi juga diduga kuat ikut terlibat dalam sejumlah pekerjaan proyek yang ada, melalui orang-orang terdekatnya. Banyak proyek di Dinas Pariwisata yang dikerjakan Almaturidi melalui orang-orang terdekatnya.
” Saya selaku masyarakat Lamtim dan juga salah satu rekanan wajar mempertanyakan etika dan kinerja seorang kadis tersebut. Saya memang agak kecewa sama kinerja kadis yang terkesan korup seperti itu, sudah gitu tingkah lakunya juga seperti preman. Saya pernah hendak mengajak ngobrol Kadis Pariwisata Almaturidi tersebut. Saat bertemu, bukannya kita mendapat senyuman atau sapa, malah dia mendorong saya hingga hampir terjatuh. Pernah saya hendak mengajak Alamaturidi untuk mengobrol, tetapi ketika berhadapan dengannya, saya langsung di dorongnya dan kejadian itu pas di depan umum,” kesalnya.
Ia menambahkan, sebenarnya kejadian tersebut sudah pernah disampaikan langsung pada Sekda Lamtim, Syahrudin Putera. Namun Sekda Lamtim justru terkesan ada pembiaran.
” Saya kira dengan menyampaikan kejadian tersebut kepada Sekda akan ada tindakan, eh justru tidak ada tanggapan, “pungkasnya. (*)






