Minggu, Agustus 14, 2022
Beranda UMUM Pimpinan Organisasi Kepemudaan Deklarasi Pemuda Negarawan Lintas Agama di Medan

Pimpinan Organisasi Kepemudaan Deklarasi Pemuda Negarawan Lintas Agama di Medan

        Perspektiflampung.com (Medan) —  Sejumlah pimpinan organisasi kepemudaan melakukan Deklarasi Pemuda Lintas Agama.  Deklarasi digelar saat Silaturahmi Kebangsaan Pemuda Lintas Agama bertema “Pemuda Negarawan Lintas Agama Menuju Indonesia Emas 2045” di Taman Sadika Medan, Sumatra Utara, Jumat (29/7/2022).
       Kegiatan ini dihadiri Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas secara virtual. Selain itu juga terlihat hadir Wali Kota Medan Bobby Nasution dan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto yang didaulat sebagai ketua kelas Pemuda Negarawan Lintas Agama. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Ketua Umum Gema Konghucu Kris Tan,  pembacaan Sumpah Pemuda oleh Ketua Umum Gema Mathlaul Anwar Ahmad Nawawi.
       Deklarasi sekaligus Peluncuran Program Pemuda Negarawan Menuju Indonesia Emas 2045 yang dibacakan secara bergantian oleh Bendahara Umum GP Ansor Addin Jauharudin, Ketua Umum GAMKI Willem Wandik, Ketua Umum Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma, Ketua Umum Gemabudhi Bambang Patijaya, Ketua Umum Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma, Ketua Umum PERADAH I Gede Ariawan, Ketua Umum GEMAKU Kirstan, Ketua Umum GPII Masri Ikoni, dan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto.
       Deklarasi beisikan 5 poin, pertama pandangan Nasionalis dan Berketuhanan Yang Maha Esa serta menjadi garda depan dalam mengawal kepentingan bangsa dan negara berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
       Kedua Memiliki kapasitas dan integritas untuk mengajarkan serta mengamalkan nilai-nilai dan moral Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
        Ketiga Mengedepankan nilai etik politik kebangsaan dan kenegarawanan yang merupakan ciri khas demokrasi Indonesia yang bermartabat.
        Keempat Memperkuat gerakan nilai-nilai moderasi beragama, serta membangun masyarakat yang berpegang teguh pada prinsip toleransi, solidaritas, dan gotong royong.
        Kelima, Menyuarakan isu-isu strategis nasional dan internasional serta berperan aktif dalam membangun masyarakat, bangsa, dan negara menuju Indonesia Emas 2045.
       Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto yang didaulat sebagai ketua kelas Pemuda Negarawan Lintas Agama mengatakan pemimpin bangsa ini tidak hanya diam duduk di belakang dengan kenyamanannya tapi para pemimpin ini menunjukkan kesediaan dalam berjuang untuk mensejahterakan dan membangun bangsa.
        Menurut Cak Nanto, Kota Medan menjadi pilihan dalam Deklarasi Pemuda Negarawan Lintas Agama karena Kota Medan dan Provinsi Sumatra Utara merupakan salah satu provinsi yang secara tolerasi keberagamaan nomor satu dan saling menghargai.
        “Kami mendorong bahwa sebagai generasi pemuda lintas agama meninggikan kapasitas dan kemampuan dirinya untuk membangun bangsa ini dengan cita-cita luhur kebangsaan berdasarkan nilai-nilai keagamaan yang dianut bukan politik golongan,” kata Cak Nanto.
        Cak Nanto berharap para Pemuda Negarawan Lintas Agama ini sebagai garda terdepan membangun bangsa. “Agar mengawal bangsa ini lebih harmonis dan lebih sejahtera,” pungkasnya.
        Wali Kota Medan Bobby Nasution mengatakan selama Medan menyandang miniatur Indonesia, multietnis dan setiap etnisnya tentunya memiliki landasan ajaran keagamaan masing-masing. Selama ini, kata Bobby, belum ada konflik antara umat beragama yang terjadi di Kota Medan. “Mudah-mudahan hal ini bisa terus kita jaga kita jadikan landasan empirik,” katanya.
        Menurut Bobby untuk menuju Indonesia Emas 2045 yang dilakukan adalah bagaimana memastikan persatuan dan kesatuan terselenggara dengan baik. “Terutama bagaimana kerukunan antaragama seperti yang dikatakan Cak Nanto bagaimana kita dalam menjaga kemerdekaan ini juga menjaga melestarikan keberagaman itu sendiri,” kata Bobby.
       Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas berharap kegiatan ini tidak hanya dideklarasikan saja tapi juga bagaimana poin-poin yang dideklarasikan tadi bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari untuk bangsa dan negara. Pemuda sebagai garda terdepan bangsa ini harus sama-sama mengakui bahwa tidak ada hidup bersama yang tidak plural. “Hidup bersama itu pasti plural. Setiap fase sejarah selalu ditandai dengan kemajemukan dengan kebinekaan, dengan keberagaman,” ujarnya. (Fri/rils)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Iklan

Iklan

Iklan

Most Popular

Recent Comments