Kajari Metro Pastikan Proses Penyidikan Perkara Dugaan Korupsi Pasar Cendrawasih Berlanjut

0
1131

Perspektiflampung.com-Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Metro Ivan Jaka MW memastikan, proses penyidikan perkara dugaan korupsi pada Proyek Pembangunan Pasar Cendrawasih terus berlanjut. Hanya saja, sejauh ini, penyidik belum dapat membeberkan hasil penyidikan.

       Menurut Ivan Jaka, kepastian proses penyidikan pada proyek senilai Rp 3,9 miliar tersebut, didasarkan atas temuan pihaknya serta laporan pengaduan (lapdu) dari dua elemen masyarakat. “Jadi, selain temuan kami, juga ada lapdu dari dua elemen masyarakat. Nantinya, akan kami padukan hasil temuan dan kedua lapdu tersebut. Kami tetap bekerja, silakan rekan-rekan wartawan mengawasinya,”kata Ivan Jaka, Senin (2/9).
       Berdasarkan pantauan, hingga kini penyidik pada Seksi Intelijen yang menangani perkara dugaan korupsi pada Proyek Pembangunan Pasar Cendrawasih, belum terlihat melakukan pemeriksaan lanjutan pada proyek yang dikelola oleh Dinas Perdagangan Kota Metro tersebut.

       Diketahui, Kejaksaan Negeri (Kejari) Metro membidik Proyek Renovasi Pasar Cendrawasih. Buntutnya, Kepala Dinas Perdagangan Kota Metro, Leo M Hutabarat bersama.sejumlah pejabat setempat, diperiksa tim penyidik, Rabu (10/7) lalu.

       Kepala Seksi Intelijen Kejari Metro, Guntoro Janjang Saptodie, membenarkan agenda pemeriksaan sejumlah pejabat Disdag, terkait dugaan korupsi pada Proyek Renovasi Pasar Cendrawasih senilai Rp 3,7 miliar lebih yang bersumber pada APBD Kota Metro tahun anggaran 2018. “Benar, hari ini ini kami mengagendakan pemeriksaan terhadap Kadis Perdagangan dan sejumlah pejabat yang terkait,” kata Guntoro Janjang.
       Namun, pihaknya belum bersedia memberikan keterangan terkait pemeriksaan terhadap dugaan korupsi Proyek Renovasi Pasar Cendrawasih, dengan alasan pemeriksaan masih pada tahap penyelidikan.
Berdasarkan data yang dihimpun,  pada hasil Proyek Renovasi Pasar Cendrawasih, yang diperuntukkan bagi pedagang kaki lima (PKL) di pelataran parkir, terdapat sejumlah kejanggalan. Di antaranya, los pedagang yang dipersiapkan, lebih cocok untuk pedagang hamparan sayuran. Padahal, sebagian besar PKL merupakan pedagang pakaian.
       Lalu, pengecoran meja hamparan juga terkesan asal-asalan, termasuk pintu besi loker yang kualitasnya sangat memprihatinkan. Sebab, belum saja digunakan, sejumlah pintu besi sudah rusak. Terlebih, pemasangan 1 unit escalator untuk menghubungkan lantaii dasar dengan lantai II, kualitasnya juga sangat rendah. Padahal, sesuai dengan RAB, anggaran untuk escalator dibanderol Rp 750 juta.
 
       Praktis, hampir seluruh item pekerjaan, digarap asal-asalan, termasuk pengecatan dinding, yang sudah terlihat kusam, padahal bangunan baru selesai dikerjakan.(*)
Kajari Metro Ivan Jaka MW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here